membaca kisah bukan di negeri dongeng selalu membuat hati mengharu biru.rasanya tidak pernah bosan meski sudah berulangkali membaca beberapa kisah yang sama.simaklah kisah jadilah orang yang pertama,tentang seorang akhwat yang selalu menjadi penolong saudaranya,meski keadaanya juga perlu ditolong,dia tidak mau merpotkan yang lain.
atau simak kisah ‘bukan rezeki saya’, tentang seorang anggota dewan yang bahkan ke mana2 selalu pakai kendaraan umum. rezeki dimaknai dengan begitu mendalam dengan kesederhanaannya.membaca kisah2 itu seolah membuat telinga mendapat peringatan keras, ‘APA YANG SUDAH KAU PERBUAT,SBG SEORANG MUSLIM MAUPUN SEBAGAI SEORANG IKHWAH’. dakwah kita adalah dakwah untuk keadilan dan kesejahteraan sesuai prinsip ISLAM bukan untuk simbol. setiap amal mendapat tempat yang cukup mendalam dalam kegiatan individu. produktifitas individu pun dipertanyakan dalam kehidupan ini. buku bukan di negeri dongeng ini merupakan sebuah amal produktif tentang amal soleh,kemanusiaan,keadilan,cita,harapan,manusia, yang kita rasakan mulai terkikis dalam rutinitas keseharian kita. semoga hati ini masih selalu terharu dengan adanya kisah2 tsb.insyaAllah terharunya hati merupakan tanda bahwa kita masih belum tertutup dari hidayah Allah,amin [ai12]
*ebook bisa dibaca di sini : bukan di negeri dongeng
maaf tidak bisa meminjamkan buku aslinya.
“Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan message kehidupan, maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak ada panen bagi mereka selain kehancuran dan kerugian.” (Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah)
met puasa arofah guys, begitu yang tertulis di salah satu status ym temen satu kantor hari ini. ya, smoga sy dan temen-temen sekalian bisa menikmati hidangan 10 hari awal Dzulhijjjah ini. kerena 10 hari ini begitu istimewa, begitu dimuliakan Allah SWT,









komentar